Rabu, 07 September 2016

TATA KRAMA ATAU UNGGAH-UNGGUH

Kata tata krama atau pada masyarakat Jawa disebut unggah ungguh pada saat ini hanya tinggal sebutan saja, sementara implementasinya dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi barang langka. Bahkan beberapa orang beranggapan bahwa tata krama atau unggah-ungguh itu suatu aturan atau prilaku yang rumit. Sehingga hanya akan menghambat pergaulan, maupun menghambat kemajuan saja.
Dari pemikiran tersebut akhirnya menjadikan tata krama atau unggah-ungguh semakin ditinggalkan didalam tata perilaku bermasyarakat. Apabila keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa adanya kesadaran untuk memulai menerapkan kembali tata krama atau unggah-ungguh dalam kehidupan bermasyarakat, maka tidak tertutup kemungkinan unggah-ungguh atau tata krama yang menjadi budaya bangsa ini akan hilang lenyap, tergantikan budaya baru yang tidak mengakar pada budaya bangsa yang adiluhung.


Tata krama jawa, unggah-ungguh jawa atau sopan santun  dijadikan pedoman oleh masyarakat Jawa dalam berperilaku ataupun berinteraksi. Tata krama mengandung nilai-nilai adat yang berlaku pada daerah tertentu sehingga antar suku bangsa tidak akan sama atau berlaku. Tata krama diperoleh oleh individu melalui proses interaksi dalam keluarga atau masyarakat. Tata krama yang masih dijalankan oleh orang Jawa antara lain tata krama dalam penggunaan bahasa, berpamitan, duduk, makan dan minum, berpakaian, dan bertamu.
Tata krama dalam lingkungan keluarga misalnya penggunaan bahasa dalam percakapan sehari-hari. Orang Jawa menggunakan bahasa Jawa untuk lebih mempererat hubungan antar anggota keluaga. Pada saat ini penggunaan bahasa Jawa Krama Inggil yang merupakan bahasa yang digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua sudah jarang digunakan. Banyak anak yang menggunakan bahasa Ngoko kepada orang tua atau kakaknya. Anak-anak jaman sekarang bahkan banyak yang tidak mengenalinya lagi karena sejak kecil tidak diajarkan oleh orang tuanya. Banyak orang tua yang lebih memilih mengajarkan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa.

Sejauh pengamatan saya, anak masih mematuhi nasihat orang tua. Mematuhi nasihat orang tua merupakan suatu bentuk penghormatan. Namun jika diperintah untuk suatu hal terkadang enggan untuk menjalankannya dan apabila dijalankanpun dengan penuh keterpaksaan.

Seorang anak jika hendak bepergian atau meninggalkan rumah, pada umumnya telah dibiasakan untuk berpamitan. Berpamitan merupakan salah satu bentuk sopan santun. Tujuan dari berpamitan adalah meminta restu agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan supaya orang tua tidak mengkhawatirkan kepergian anaknya. Pada saat berpamitan biasanya disertai dengan mencium tangan dan kedua pipi orang tua.

Tata cara duduk yang benar adalah posisi duduk yang sopan. Apabila menggunakan kursi maka kedua kaki harus berada di bawah dan dengan posisi yang rapat. Pada saat ini posisi duduk di dalam suatu keluarga baik di atas kursi maupun di lantai dilakukan dengan posisi yang santai dan senyaman mungkin. Posisi duduk tidak lagi seformal jaman dahulu. Misalnya pada saat nonton TV bersama atau pada saat sedang santai.

Tata krama dalam makan dan minum yang masih dijalankan hingga saat ini adalah tidak berbunyi (berkecap) pada waktu makan. Berkecap pada waktu makan dianggap kurang sopan dan mengganggu. Disamping itu banyak tata krama dalam makan dan minum yang mulai mengalami perubahan. Ketika sedang makan dan minum bersama-sama dengan teman kebanyakan dilakukan sambil mengobrol. Padahal makan sambil mengobrol dapat mengakibatkan tersedak dan mengganggu pernapasan. Pesta berdiri juga menjamur dimana-mana. Hal tersebut memaksa orang yang hadir makan dan minum dalam posisi berdiri. Bukan hanya di pesta saja melainkan sekarang sudah menjadi kebiasaan untuk makan dan minum dalam posisi berdiri dalam kehidupan sehari-hari.

Pada jaman dahulu, orang Jawa dalam berpakaian menggunakan pakaian khas Jawa dan jarik. Seiring dengan perkembangan jaman, pakaian diproduksi dengan berbagai model, pakaian khas dan jarik tersebut sudah mulai ditinggalkan. Perempuan saat ini banyak yang menggunakan celana, padahal dahulu celana hanya untuk laki-laki. Dalam berpakaianpun orang mulai meninggalkan kesopanan. Orang yang berpakaian dengan baju ketat mini, dapat dijumpai dimana-mana.
Bertamu merupakan aktivitas berkunjung ke rumah orang lain baik yang sudah dikenal atau belum. Ada tata krama bertamu yang berlaku dalam masyarakat. Orang yang bertamu harus memperhatikan waktu yang tepat. Jangan bertamu pada saat jam istirahat karena akan mengganggu waktu yang punya rumah. Jika sudah sampai di tempat yang dituju sebaiknya mengetuk pintu dan memberi salam, setelah itu mengutarakan maksud dan tujuan berkunjung. Sebagai orang yang bertamu juga harus menghormati pemilik rumah, apabila dihidangkan sajian sebaiknya dimakan supaya tidak menyakiti hati pemilik rumah. Saat ini tata cara dalam bertamu tersebut masih dijalankan.

Pada saat ini tata krama sudah mengalami beberapa perubahan karena masuknya informasi dari berbagai media. Masuknya berbagai media baik cetak maupun elektronik sangat berpengaruh terhadap penggunaan tata krama terutama generasi muda. Berbagai informasi yang masuk akan berpengaruh terhadap tatanan nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat Jawa cenderung meniru budaya yang masuk melalui media tersebut dalam bertindak dan berperilaku. Namun bagi yang bisa membedakan hal-hal yang baik dan buruk tentu tidak akan terpengaruh oleh masuknya budaya asing tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar